Pernah nggak sih, kamu lagi sendirian di kamar, di jalan pulang, atau pas mau tidur tiba-tiba pikiranmu muter ke mana-mana?
Dari hal kecil kayak “kenapa tadi aku ngomong kayak gitu ya?” sampai hal besar kayak “hidupku ini arahnya ke mana sih sebenernya?”

Sendiri, tapi isi kepala ramai banget.
Kayak ada ribuan suara yang muncul satu-satu.
Padahal sebelumnya biasa aja.

Tenang, kamu nggak sendirian. Banyak banget orang yang ngalamin hal serupa. Overthinking saat sendiri itu umum banget terjadi, dan di artikel ini kita bakal bahas kenapa itu bisa kejadian plus, gimana cara yang bisa kita lakuin buat meredakannya.

Baca juga :

Memahami Filosofi Kurikulum Merdeka

Kenapa Overthinking Sering Muncul Saat Kita Sendiri?

Waktu kita sendirian, nggak ada hal lain yang nge-distract kita. Nggak ada obrolan, nggak ada notifikasi, nggak ada kegiatan yang bikin fokus.
Nah, saat itu, otak kita masuk ke mode default. Ibaratnya kayak mesin yang tetap nyala walau nggak dipakai nyetir—jadi dia muter-muter sendiri.

Mode ini yang bikin kita mulai mikir ulang hal-hal dari masa lalu, atau nebak-nebak masa depan. Jadilah kita overthinking.

Misalnya gini:

Kamu baru pulang kerja, duduk di kasur. Harusnya santai. Tapi tiba-tiba, kamu keinget omongan teman tadi siang.
“Dia maksudnya nyindir aku nggak sih?”
Atau…
“Gimana kalau besok bos nggak suka sama hasil kerjaku?”

Padahal semua itu belum tentu kejadian. Tapi pikiran udah lari jauh duluan.

Fun fact:
Sebuah penelitian dari Harvard bilang, manusia itu ngabisin sekitar 47% waktunya buat mind-wandering alias mikir hal-hal di luar momen sekarang. Dan sayangnya, ini sering dikaitin sama perasaan nggak bahagia.

Terus, Gimana Cara Meredakannya?

Overthinking itu manusiawi. Tapi bukan berarti kita harus selalu ditarik sama arusnya. Ada beberapa hal kecil yang bisa bantu kita lebih tenang saat pikiran mulai “berisik” waktu sendirian:

1. Tulis semua isi kepala

Buka catatan atau ambil kertas. Tulis aja semua yang ada di kepala, tanpa filter.
Kadang, saat kita menuangkan pikiran, kita jadi lebih ‘lega’ dan bisa lihat semuanya lebih jernih.

2. Alihkan ke aktivitas ringan

Nggak harus yang berat. Bisa baca buku, dengerin musik santai, journaling, atau sekadar jalan kaki.
Aktivitas kayak gini bantu otak kita switch dari mode overthinking ke mode “hadir di sekarang”.

3. Jangan dilawan, cukup disadari

Overthinking itu kayak tamu. Semakin kamu usir paksa, semakin dia keras kepala.
Tapi kalau kamu bilang, “oke, aku sadar kamu datang,” biasanya dia lebih cepat pergi.

4. Tanya hal ini ke diri sendiri:

  • Apa yang sebenarnya aku pikirin sekarang?

  • Ini hal yang bisa aku kontrol nggak?

  • Kalau nggak bisa, kenapa aku harus nyimpen ini terus?

Pertanyaan-pertanyaan ini bisa bantu kamu memilah: mana yang perlu kamu tanggapi, dan mana yang bisa kamu letakkan.

Pelan-Pelan Aja

Kadang, kita ngerasa harus ngerti semua pikiran kita sekarang juga. Padahal enggak. Kadang yang kita butuhin cuma duduk bareng pikiran itu, tanpa harus langsung ngerti atau nyari solusi.

Baca juga :

Merancang Program Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) yang Efektif

Coba deh, hari ini ambil 5 menit aja. Tarik napas perlahan.
Dengerin apa yang muncul di kepala, tapi kali ini… tanpa buru-buru ngehakimi.

Karena kadang, langkah paling besar dimulai dari satu hal kecil: berani hadir bareng diri sendiri.

Kalau kamu suka artikel seperti ini dan pengen baca yang lainnya soal self-development dan kesehatan mental, stay di blog ini ya. Dan kalau kamu ngerasa tulisan ini relate, boleh banget dibagi ke teman atau orang terdekat. Siapa tahu mereka juga butuh baca ini hari ini. 🌿