Pagi-pagi, saya ngajar ke sekolah, di dalam tas ada laptop, charger, dan kadang… keresahan hidup πŸ˜‚. Habis ngajar, biasanya saya duduk di pojok ruang TU atau Lab Komputer. Buka laptop, mulai ngerjain desain website atau revisi dari klien. Kadang ngerjain di tengah suara anak-anak yang lagi praktik di Lab Komputer, kadang pas istirahat sambil nyuapin nasi bungkus ke mulut sendiri.

Baca juga : 5 Pertanyaan Harian untuk Mengenal Diri Sendiri Lebih Dalam

Apa yang Saya Pelajari

Jujur, nggak gampang. Ada hari-hari di mana saya merasa ngelakuin semua ini sia-sia. Hasil kerjaan dihargai murah, revisi bolak-balik, dan tetap harus masuk kelas jam 07.00 pagi esok harinya. Tapi justru dari situ, saya belajar ikhlas. Ikhlas bukan karena saya β€œsuci” atau β€œhebat”. Tapi karena saya sadar, kalau saya terus hitung-hitungan, saya bisa cepat lelah dan nyerah.

Ikhlas yang saya maksud tuh bukan pasrah. Tapi menerima bahwa proses ini adalah bagian dari jalan hidup saya. Ada pelajaran yang nggak bisa dipelajari lewat teori, tapi cuma bisa dirasain pas lagi dijalanin.

Mungkin Kamu Juga Lagi Ngerasain Hal yang Sama

Saya yakin, banyak banget dari kita yang lagi ngejalanin peran ganda. Mungkin kamu kuliah sambil kerja. Atau jaga anak sambil jualan online. Atau lagi kerja kantoran tapi punya side hustle yang juga butuh perhatian.

Capeknya itu nyata. Tapi sering nggak dianggap.

Dan kadang kita jadi nanya: ini semua worth it nggak sih?

Awalnya, saya kira ini cuma soal manajemen waktu. Tapi ternyata, perjalanan jadi guru dan freelancer sekaligus, lebih banyak ngajarin saya soal… hati.

Insight yang Saya Dapat

Dari semua ini, saya mulai percaya satu hal: yang bikin kita tetap bisa jalan bukan cuma semangat, tapi konsistensi. Dan konsistensi itu nggak selalu soal produktif, tapi soal bertahan. Bertahan walau hasil belum keliatan, belum dipuji siapa-siapa, dan kadang nggak tahu ini semua ujungnya ke mana.

Yang penting bukan cepat sukses, tapi tetap jalan dengan sadar. Nggak asal-asalan. Nggak ngebandingin terus sama orang lain.

Sekarang saya masih jadi guru. Masih freelance juga. Masih belajar juga. Tapi saya udah bisa senyum sedikit lebih tulus pas lihat ke belakang. Karena saya tahu, semua proses ini bukan sia-sia.

Baca juga : Kenapa Kita Sering Overthinking Saat Sendiri dan Cara Meredakannya

β€œJalan yang berat bukan berarti salah. Kadang, itu tanda kamu sedang mendaki menuju tempat yang lebih tinggi.”
– (Kutipan pribadi, hasil ngobrol sama diri sendiri pas lembur)

Kalau kamu lagi ngerasa jalanmu berat, mungkin bukan karena kamu lemah. Tapi karena kamu lagi naik. Jadi jangan berhenti dulu, ya.