Libur seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat, memulihkan energi, dan kembali ke rutinitas dengan kondisi yang lebih segar. Namun bagi banyak guru di Indonesia, kata libur sering kali hanya berubah bentuk bukan benar-benar berhenti. Mengajar memang berhenti sementara, tetapi pikiran tetap bekerja. Administrasi masih menunggu, grup WhatsApp sekolah tetap aktif, dan rasa “tidak enak” jika tidak responsif masih melekat.
Baca juga : 7 Kalimat yang Tanpa Sadar Bisa Melukai Mental Siswa
Di sinilah persoalan burnout guru mulai muncul. Bukan karena guru tidak cinta profesinya, tetapi karena tidak pernah diberi ruang untuk benar-benar berhenti.
Libur Guru yang Tidak Pernah Sepenuhnya Libur
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak guru menjalani libur dengan perasaan setengah-setengah. Secara kalender libur, tetapi secara mental masih bekerja. Ada RPP yang “sekalian dirapikan”, laporan yang “mumpung ada waktu”, hingga pesan singkat dari rekan kerja yang diawali dengan kalimat klasik, “Maaf mengganggu liburannya…”.
Padahal, kesehatan mental guru sama pentingnya dengan kompetensi pedagogik. Guru yang kelelahan secara emosional akan sulit hadir secara utuh di kelas. Bukan karena tidak profesional, tetapi karena energinya sudah terkuras sebelum pembelajaran dimulai.
1. Saat Siswa Libur, Guru WAJIB Libur
Bayangkan sebuah kondisi ideal di mana saat siswa libur, guru juga benar-benar libur. Tidak ada revisi RPP, tidak ada laporan, dan tidak ada ekspektasi untuk selalu siap dihubungi. Libur dipahami sebagai waktu pemulihan, bukan waktu kerja yang dipindahkan ke rumah.
Dalam kondisi seperti ini, otak guru mendapat kesempatan untuk reboot. Energi yang biasanya habis untuk multitasking bisa dialihkan untuk hal-hal sederhana yaitu tidur cukup, menikmati waktu bersama keluarga, atau sekadar diam tanpa target.
2. Guru DILARANG Mengerjakan Administrasi Apapun Saat Liburan
Salah satu sumber kelelahan terbesar dalam kehidupan guru adalah beban administrasi. Bukan semata banyaknya tugas, tetapi karena tugas tersebut sering kali tidak mengenal waktu. Libur pun terasa seperti kesempatan “mengejar ketertinggalan”.
Jika administrasi benar-benar dihentikan saat libur, guru akan memiliki batas yang lebih sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Ini bukan soal malas, melainkan soal keberlanjutan profesi. Guru bukan mesin produktivitas tanpa henti, melainkan manusia dengan kapasitas yang terbatas.
3. Guru WAJIB Liburan Bersama Keluarga
Banyak guru terbiasa mendahulukan kewajiban profesional dibandingkan kebutuhan personal. Akibatnya, waktu bersama keluarga sering menjadi korban. Libur ideal seharusnya memberi ruang bagi guru untuk hadir sebagai orang tua, pasangan, atau anggota keluarga bukan hanya sebagai pendidik.
Hubungan yang hangat di rumah akan berdampak langsung pada kondisi emosional guru di sekolah. Guru yang bahagia di rumah lebih siap menghadapi dinamika kelas dengan sabar dan empati.
4. Guru Dapat TUNJANGAN Uang Liburan
Membicarakan tunjangan atau fasilitas sering kali dianggap sensitif. Namun kesejahteraan guru bukan kemewahan, melainkan kebutuhan dasar. Guru yang sejahtera secara finansial dan emosional tidak perlu terus-menerus berada dalam mode bertahan.
Kesejahteraan yang dimaksud bukan sekadar angka, tetapi rasa dihargai. Ketika guru merasa diperhatikan, motivasi intrinsik akan tumbuh dengan sendirinya.
5. Tunjangan Liburan WAJIB Dihabiskan
Tunjangan liburan idealnya bukan hanya sekadar angka yang masuk rekening, tetapi benar-benar digunakan untuk memulihkan diri. Bahkan jika hanya untuk hal sederhana ngopi enak tanpa terburu-buru, menikmati makanan favorit tanpa rasa bersalah, atau jalan-jalan singkat ke tempat terdekat, semua itu punya nilai besar bagi kesehatan mental guru.
Menghabiskan tunjangan liburan bukan bentuk pemborosan, melainkan investasi emosional agar guru kembali mengajar dengan hati yang lebih ringan. Karena pada akhirnya, guru juga manusia yang butuh menikmati hasil jerih payahnya, bukan mesin tabungan berjalan yang terus menunda bahagia.
6. Grup WA Sekolah WAJIB Nonaktif Saat Liburan
Di era digital, pekerjaan guru tidak lagi terbatas ruang dan waktu. Grup WhatsApp sekolah menjadi saluran komunikasi utama, tetapi juga sumber stres yang tidak disadari. Notifikasi yang terus muncul membuat guru sulit benar-benar lepas dari peran profesionalnya.
Libur tanpa notifikasi adalah bentuk istirahat yang nyata. Ketika komunikasi formal dihentikan sementara, guru bisa kembali menjadi dirinya sendiri tanpa rasa waswas.
7. Guru WAJIB Menikmati Masa Liburan
Menjadi guru yang baik bukan berarti selalu tersedia. Justru guru yang tahu kapan berhenti adalah guru yang memahami batas dirinya. Dengan istirahat yang cukup, guru dapat kembali ke sekolah dengan versi terbaik dari dirinya lebih sabar, lebih fokus, dan lebih bermakna.
Sekolah pun diuntungkan. Siswa mendapatkan pendidik yang hadir secara utuh, bukan sekadar menjalankan kewajiban.
Baca juga : Guru Juga Manusia: Tetap Mengajar Meski Sedang Tidak Baik-Baik Saja
8. Setelah Liburan, Guru WAJIB Istirahat
Burnout guru bukan isu sepele. Ketika guru mengalami kelelahan berkepanjangan, dampaknya bukan hanya pada diri guru, tetapi juga pada kualitas pembelajaran, hubungan dengan siswa, dan iklim sekolah secara keseluruhan. Guru yang burnout cenderung lebih mudah lelah, kurang antusias, dan kehilangan makna dalam pekerjaannya.
Ironisnya, banyak guru merasa bersalah ketika ingin istirahat. Seolah-olah berhenti sejenak berarti tidak berdedikasi. Padahal justru sebaliknya guru yang mampu mengatur waktu istirahat adalah guru yang ingin bertahan lama dan tetap memberikan yang terbaik.
Baca juga : Pola Pikir Bertumbuh (Growth Mindset): Kunci Sukses Pembelajaran Mendalam dan Pengembangan Karakter Siswa
Libur Bukan Pelarian, Tapi Perawatan
Libur guru bukan bentuk pelarian dari tanggung jawab, melainkan bentuk perawatan diri. Guru yang sehat secara mental dan emosional adalah aset besar bagi pendidikan Indonesia.
Mungkin kebijakan ideal ini belum sepenuhnya terwujud. Namun membicarakannya adalah langkah awal. Karena perubahan besar sering kali dimulai dari obrolan jujur sesama guru bahwa lelah itu nyata, dan istirahat itu perlu.